ada apa dengan KOMPAS?

ada apa dengan KOMPAS?

Hmm… mungkin pada bingung ya, emang ada yang aneh dengan harian KOMPAS. Tidak! Tidak ada yang aneh dengan KOMPAS, masih seperti biasanya memberikan pemberitaan yang kompeten dan jurnalistik yang dapat dipertanggungjawabkan. Hanya saja, terdapat hal yang menarik dalam headline KOMPAS selama tiga hari berturut-turut (21 Juli 2008-23 Juli 2008). Apa itu? KORUPSI!!

Tanggal 21 Juli 2008: Pemerintah dari Aceh sampai Papua Terjerat, Perlu Strategi Progresif untuk Perangi Korupsi.

Tanggal 22 Juli 2008: Pembersihan di Birokrasi, Presiden Tidak Tutup Kemungkinan Koruptor Dihukum Mati.

Tanggal 23 Juli 2008: Tak Cukup Hanya Keluarkan Aturan, KTP Terpidana Korupsi Diberi Tanda “EK”.

Entah kenapa sampai KOMPAS menerbitkan ketiga headline diatas terkait dengan kasus korupsi. Apakah karena ketidaksengajaan (berita yang sedang ‘hot’) atau memang karena kesengajaan. Apabila karena ketidaksengajaan, berarti gerakan pemberantasan korupsi sedang ‘seru-seru’nya belakangan ini dan pemberantasan korupsi memiliki nilai berita tinggi. Memang setelah terungkap kasus Artalyta-Urip, Al Amin dan kawan-kawan anggota DPR, Burhanuddin dan kawan-kawan Bank Indonesia, berita seputar korupsi mereka menjadi trend tersendiri di kalangan media. Apalagi, biasanya muncul atau timbul informasi2 baru yang menarik dari pengadilan mereka (thanks KPK,,, keep the good work. sadap terus tuh orang2 yang mencurigakan… huehehe).

Tetapi apabila ketiga headline diatas merupakan kesengajaan dari redaksi KOMPAS, menurut saya hal itu SANGAT-SANGAT BAGUS. Kenapa? Karena KOMPAS sudah melaksanakan membantu pemberantasan korupsi dengan caranya sendiri.. yaitu media atau pembentukan opini. Yaa.. kita semua memang harus mendukung gerakan pemberantasan korupsi, baik kelas kakap macam Urip maupun kelas cere’ macam pungli2 KTP dan SIM,  dengan cara yang bisa kita lakukan sendiri. KOMPAS sebagai media terbesar di Indonesia (gw sotoy aj sih,,, hee) telah memberikan tambahan amunisi dalam pemberantasan korupsi dengan mengangkat berita-berita diatas. Mungkin sebagian orang akan berpikir hal tersebut tidak signifikan, tapi kalau menurut saya, seberapa pun tidak signifikannya itu, pemberitaan diatas TELAH membantu program pemberantasan korupsi. Dan hal ini membuktikan bahwa KOMPAS telah melakukan langkah nyata, tidak sekedar berwacana.

Sudah cukup negeri ini diliput masalah KORUPSI…  KORUPSI HARUS DIBERANTAS!!!!

24 Juli 2008 at 9:25 am Tinggalkan komentar

kebanjiran informasi

hmm.. akhir2 ini lagi sering nemu hal yang terkait dengan masalah ini.

dari kompas.com, republika (tanggal 7 juli klo ga salah), smpai dengan bos gw. memang berita2 diatas ga saling berhubungan langsung. tapi setelah gw pikir2, mereka semua saling terkait dan saling berhubungan.

kita mulai dari kompas.com. salah satu artikelnya bilang bahwa manusia modern itu semakin berpeluang mengalami “information overload”. hal ini terjadi karena banyaknya informasi yang dia terima, baik berguna maupun tidak. hal ini sebetulnya baik, karena informasi dapat membantu manusia dalam mengambil keputusan, apalagi dunia yang semakin kompleks dan kompetitif ini. sayangnya, akibat banjir informasi tersebut, malah dapat mengakibatkan turunnya produktifitas. hal ini terjadi akibat manusia ‘terpaksa’ untuk mengolah informasi yang masuk.

nah.. yang kedua adalah topik utama republika hari minggu. di topik itu, republika mengangkat seputar ikhlas. di topik utama itu republika menyarankan untuk kita sebagai manusia menghadapi semua masalah dengan pendekatan ikhlas, karena dengan ikhlas maka kita dapat mengeluarkan segenap potensi kita. terkait dengan ilmu ikhlas ini, narasumber republika (yang sayangnya gw lupa namanya) menyaranankan konsep ‘here and now’ untuk belajar ikhlas.

apa itu ‘here and now’ ? konsep untuk fokus pada saat ini dan disini. contohnya, apabila seorang pengusaha mengalami musibah pencurian, sedangkan dia harus membayar utang. klo dia fokus ke masa depan, pada saat harus membayar utang, maka dia akan mengalami stress. tapi jika dia tetap fokus dengan ‘saat ini’ maka dia akan berusaha sekuat tenaga untuk mencari dana untuk membayar utang tersebut. yaa.. kurang lebih seperti itulah konsep ‘here and now’ (maap yak klo salah nangkep.. ;p)

yang terakhir itu istilah bos gw… terkooptasi pikiran sendiri. mungkin biasa aja istilah dia ini, tapi gw tertarik dengan istilah dia ini. karena bisa jadi ‘penyambung’ antara kedua artikel diatas. bayangannya gini: banjir informasi memaksa kita untuk terus menerus berpikir, dimana kecenderungan adalah kita berpikir untuk masa depan. pikiran kita yang berfokus pada masa datang menyebabkan kita lupa akan ‘here and now’, akibatnya kita tidak dapat mengeluarkan potensi sesungguhnya kita, yang ujung2nya kita kesulitan untuk ikhlas.

kesimpulannya… kebanjiran informasi -> terkooptasi pikiran sendiri -> sulit ikhlas

kurang lebih itulah pemahan yang gw dapat dari ketiga konsep diatas. maap2 klo ada yg salah atau kurang tepat penjelasannya (maklum,, tulisan pertama,, huehehe).

17 Juli 2008 at 10:25 pm Tinggalkan komentar


Arsip


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.